Thursday, 5 June 2008

Oleh : Tengget Digoel - The Boven Digoel Post

Tanah Merah Digoel, Bodipost - Masih ingatkah anda akan aksi pembasmian rakyat Papua melalui Biomiliterisme (Peracunan makanan dan minuman) yang digelar Tentara Nasional Indonesia dan Polisi Republik Indonesia (TNI-Polri) di hampir seantero Papua beberapa waktu lalu? Kejahatan yang sukses mengantar ratusan orang Papua ke liang kubur dan ratusan lainnya mengalami gangguan kesehatan serius itu ternyata belum sepenuhnya dihentikan karena rupanya daya pembasmi dan dampak hukumnya dinilai lebih efektif ketimbang menggunakan senapan mesin. Di Boven Digoel, sebuah wilayah yang rakyat pribuminya pernah menjadi sasaran Operasi Biomiliterisme, sejak tiga bulan terakhir ini beredar sebuah minuman beralkohol dengan nama Aleksander.

Minuman Aleksander dibuat oleh TNI-Polri dan beberapa orang pengusaha non Papua melalui sebuah usaha yang bersifat patungan. Pabrik mereka didirikan secara tersembunyi di Assikie (area HPH Korindo Group). Menurut sebuah sumber BodiPost, bahan dasar minuman Aleksander adalah Air Hujan, Miras Jenis Robinson (RB), Alkohol 100%, Cairan zat tertentu (namanya belum diketahui) dan Teh Celup sebagai pewarna. Cara membuatnya, semua bahan dasar tadi disatukan dalam sebuah baskom atau loyang kemudian diaduk sehingga bahan dasarnya tercampur secara baik dengan rasa dan aroma yang bisa membangkitkan selera para pemabuk.

Masih menurut sumber tadi, label Miras Aleksander dibuat di Jakarta hanya untuk menipu pembeli seolah-olah pabriknya ada di Jakarta. “Para pembeli biasa tertipu, mereka pikir Aleksander dibuat di Jakarta oleh sebuah pabrik tertentu dan dipasarkan di seluruh Indonesia, padahal pabriknya ada di Assikie, dikelola secara bebas oleh TNI-Polri dan Miras jenis ini hanya dikhususkan untuk masyarakat Papua yang ada di kabupaten Boven Digoel,” ujarnya menjelaskan.

Selama tiga bulan terakhir, peredaran minuman Aleksander sangat marak di wilayah ini, terutama di Ibu Kota Tanah Merah dan sangat meresahkan penduduk setempat karena kadang-kadang penjualnya memaksa dan mengintimidasi penduduk agar membeli Miras jenis ini. Di hampir seluruh pelosok kota Tanah Merah, ribuan liter minuman Aleksander dipasarkan secara gelap oleh Intelijen TNI-Polri dari berbagai kesatuan dan benar-benar telah menelan korban jiwa.

Dari penelusuran BodiPost, semua korbannya tidak ada satupun yang non Papua. Semuanya orang Papua, pribumi Boven Digoel. Korban-korban ini langsung meninggal dunia setelah mengkonsumsi Aleksander. Mereka adalah (1) Geradus Omba, asal suku Wambon, warga Kampung Persatuan, Tanah Merah; (2) Fransiskus Kabagaimu, asal suku Yahray (Mappi), warga Kampung Sokanggo, Tanah Merah; (3) Ferdinandus Metemko, asal suku Muyu, warga Kampung Sokanggo, Tanah Merah; (4) Abraham Waken, asal suku Muyu, Kampung Sokanggo, Tanah Merah. Para korban ini meninggal dunia setelah mengkonsumsi minuman Aleksander yang dijual oleh Intelijen TNI-Polri.

Sedangkan ratusan korban lainnya tidak meninggal dunia tetapi mengalami gangguan kesehatan yang cukup serius. Pada umumnya mereka mengalami gangguan pernafasan, gangguan pencernaan, sakit kepala berkepanjangan, gangguan ingatan, disfungsi seksual, gangguan pengelihatan (gejala kebutaan), sakit tulang, nyeri pada lutut (gejala lumpuh) dan berkurangnya nafsu makan. Mereka mengalami gangguan kesehatan setelah mengkonsumsi Alexander dan beberapa jenis Miras lainnya seperti RB dan Cap Tikus.

Mahalnya biaya pengobatan akibat penghisapan Pemerintah Kabupaten atas rakyat setempat lewat sektor kesehatan dan infrastruktur kesehatan yang tidak memadai seperti dijanjikan para pejabat dalam kampanye-kampanye politik mereka turut menambah beban bagi para korban maupun keluarga mereka yang harus putar-otak mencari biaya pengobatan dan pemulihan kesehatan.

Beberapa suster dan mantri asli Papua yang tidak lagi mampu membungkus kejahatan TNI-Polri mengatakan bahwa para korban yang menderita sakit ini (nama-nama mereka masih didata) diperkirakan kondisi mereka tidak akan stabil seperti sebelum terserang racun yang sengaja disebar lewat minuman Aleksander, RB dan Cap Tikus.

Sampai berita ini ditulis, minuman Aleksander masih dijual secara bebas tetapi karena dampaknya yang fatal, para pembeli beralih membidik Miras jenis lain seperti RB dan Cap Tikus. RB dan Cap Tikus diketahui tidak bisa langsung menyebabkan kematian seperti Aleksander. Kedua jenis minuman ini dipasok dari Merauke, Timika dan dari luar Papua oleh TNI-Polri dan pedagang gelap lainnya yang dibeking TNI-Polri. Beberapa saksi mata menyebutkan, untuk memudahkan penyelundupan dan menghindari pemeriksaan di depan publik, Miras selundupan ini selalu diangkut bersama logistik Militer TNI-Polri melalui jalur darat, laut maupun udara sehingga tidak ada satupun petugas yang boleh memeriksa.

Salah satu pedagang gelap yang dibeking TNI-Polri secara berlapis adalah istri bupati Yusak Yaluwo, Ny. Ester Lambey Yaluwo. Ketua Dharma Wanita kabupaten Boven Digoel yang sering dijuluki “Mama Boven Digoel” ini merupakan pemasok terbesar RB dan Cap Tikus yang langsung didatangkan dari Manado. Ia secara diam-diam telah meraup keuntungan yang besar dari bisnis gelap yang bersifat merusak ini.

Dilihat dari peluang bisnis, wilayah pemasaran dan konsumen yang ada, rupanya wanita Manado ini akan terus dengan leluasa mengembangkan bisnisnya untuk meraup keuntungan yang tidak sedikit dari hancurnya mental generasi muda, konflik keluarga, gangguan kesehatan yang serius dan kematian rakyat setempat akibat mengkonsumsi RB dan Cap Tikus yang dipasok secara langsung dari tanah leluhurnya dan dipasarkan secara bebas di tanah leluhur suaminya.

Sejumlah kalangan berprediksi bahwa bisnis Miras yang ditekuninya mempunyai prospek yang sangat cerah. Bisnisnya dipastikan akan meroket dengan omzet yang meningkat dari hari ke hari diiringi dengan jumlah korban yang pasti terus berjatuhan karena dirinya mendapat dukungan modal, jalur bisnis gelap, keamanan, jaminan hukum dan propaganda media massa untuk putar-balik fakta.

Dukungan ini diperoleh dari suaminya sebagai orang nomor satu di kabupaten Boven Digoel, sebuah kabupaten yang mempunyai reputasi jelek karena manajemen pemerintahannya amburadul, korup, rasis dan anti rakyat pribumi.***

Read More.....

Tuesday, 3 June 2008

Ten Oil Palm Companies to Expand to Papua

Bisnis Indonesia
JAKARTA: Papua, a region called Dutch New Guinea in the colonial era, has been 'controlled' by 10 big plantation companies in the last two years.

Of the total area size of 352,651 hectares (ha), 85,654 hectares have been seized by several business groups, such as state-owned plantation PTPN II, the Sinarmas Group, the Korindo Group, and the Raja Garuda Mas (RGM) Group, to expand their oil palm businesses.

The big private plantation groups have also controlled some companies in Papua, such as PT Tunas Sawah Erma (the Korindo Group), Sumber Indah Perkasa and Sinar Kencana Inti Perkasa (PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Corporation/ Smart Tbk), and Bumi Irian Perkasa (the RGM Group).

Until 2007, Smart had controlled 125,190 hectares of oil plantation areas in Sumatra (62,410 hectares) and Kalimantan (62,780 hectares).

Asian Agri controls over 160,000 hectares of oil palm plantations in Indonesia, while the Korindo Group, operating in the Asiki district, the Boven Digoel Regency, targets to develop 50,000 hectares of oil palm plantations.

Since 1989, Korindo has been developing oil palm plantations.

Currently, the Korindo group has already had 10,000 hectares of areas and has started production with two plants, each with a capacity of 30,000 tons of oil palm per hour.

Korindo has been allocating its oil palm to meet domestic needs and is still focusing on developing oil palm in Boven Digoel [in the south of Papua, near the PNG border].

In the meantime, the company also develops 50,000 hectares of industrial timber estate in Central Kalimantan and plans to open up an oil palm industry there.

Director General of Plantation at the Department of Agriculture Achmad Mangga Barani claimed the directorate general had mapped out land conditions and statuses.

"The Department of Agriculture' s Research and Development Agency has completed the development map for Papua. The map can show us areas potential for certain commodities, " he said recently.

Based on the map [for Papua], he continued, the Department of Agriculture would give recommendations to the local governments regarding new plantation area developments, especially those made by 10 companies.

Of the ten companies, eight have interests in the oil palm plantation sector, while the two others, PT ANJ Agri Papua and PT Nusa Ethanolasia, have interests in sago plantation.

Achmad added the total size of plantation areas in Papua reached 458,551 hectares consisting of 352,651 hectares of oil palm plantations, 5,900 hectares of cocoa plantation, and 100,000 hectares of sago. Of the total size, 32,571 hectares of areas had been planted.

According to him, the map showed there were 1.72 million hectares of areas potential for plantations, namely for oil palm plantations (885,140 hectares), cocoa plantations (305,855 hectares), coffee plantations (143,658 hectares), rubber plantations (81,098 hectares), and sugar cane plantations(268,782 hectares).

Yapen Islands [West Papua]

Separately, Regency of Yapen Islands [West Papua] Daud S. Betawi Soleman disclosed his regency had 123,596 hectares of areas potential for plantation.

"The Directorate General of Plantation will make our region as a pilot project for the integration of cocoa plantation and cow and pig farms. Regarding the size and the cost, those will depend on the government," said Daud after meeting with Director General of Plantation Achmad Manggabarani in the latter's working room yesterday. (Bisnis/et/arh)
______________
[ Free West Papua Campaign comment: Is TIME magazine's "Hero of the Environment" , Governor of Papua, Barnabas Suebu, protecting West Papua's forests, or helping Indonesia to destroy them? ]

Read More.....

Saturday, 5 April 2008

Garis Panduan Mengenai Kritikan Terhadap Ekonomi Politik

Frederick Engels

Ditulis pada tahun 1844. Dari Marx dan Engels, Collected Works, Jilid 3, muka surat 422-424. Diterjemahkan oleh Muhammad Salleh (Februari 2002)

Akibat terus-menerus daripada harta swasta adalah perdagangan – pertukaran keperluan-keperluan secara bertimbal balik – pembelian dan penjualan. Perdagangan ini, seperti setiap aktiviti lain, mesti di bawah penguasaan harta swasta menjadi sumber keuntungan secara langsung bagi pedagang; iaitu, setiap pedagang mesti menjual dengan harga yang paling tinggi yang dapat dan membeli dengan paling murah yang dapat. Maka, dalam setiap pembelian dan penjualan, dua orang dengan kepentingan yang bertentangan secara diametrik berhadapan dengan satu sama lain.

Penghadapan ini adalah bersifat bertentangan, kerana mereka menyedari hasrat satu sama lain – menyedari bahawa hasrat mereka adalah bertentangan. Maka, akibat pertama adalah rasa ketidak-yakinan bersama, dalam satu tangan, dan kemunasabahan ketidak-yakinan ini – pengamalan cara-cara tanpa moral untuk mencapai hasil tidak bermoral – dalam tangan sebelah. Maka, maksim pertama dalam perdagangan adalah kerahsiaan – penyembunyian segala yang mungkin mengurangkan nilai barangan dalam pertikaian. Hasilnya adalah bahawa perdagangan dibenarkan mengambil kesempatan dari kejahilan, keyakinan, pihak bertentangan, dan sedemikian memasukkan kualiti-kualiti ke dalam komoditi seseorang itu yang sebenarnya tidak dipegang oleh komoditi itu. Pendek kata, perdagangan adalah pemalsuan sah. Mana-mana pedagang yang ingin mengutamakan kebenaran mungkin menjadikan saya saksi bahawa amalan sebenar adalah serupa dengan teori ini.

Sistem merkantil masih mempunyai ciri-ciri Katolik tanpa seni dan sama sekali tidak menyembunyikan sifat perdagangan tanpa moral. Kita telah menyaksikan bagaimana ia mempersembahkan ketamakannya secara terbuka. Sikap bermusuh negara-negara dalam abad kelapan-belas, sikap iri hati ganas dan kecemburuan perdagangan, merupakan akibat-akibat logik perdagangan seperti itu. Pendapat awam belum lagi diberi pandangan keperimanusiaan. Maka, mengapakah menyembunyikan benda-benda yang dihasilkan oleh sifat tidak berperikemanusiaan, ganas, perdagangan sendiri?

Tetapi apabila Luther ekonomi, iaitu Adam Smith, mengkritik ekonomi silam, perihal telah berubah secara mendadak. Abad itu telah diberikan pandangan keperimanusiaan; kewarasan telah menekan dirinya, kemoralan telah menuntut hak abadinya. Perjanjian-perjanjian perdagangan yang diperas, peperangan-peperangan komersil, pemulauan negara-negara dengan tegas, terlalu menyakitkan kesedaran maju. Hipokrasi Protestan menggantikan tempat keanehan Katolik. Smith membuktikan bahawa umat manusia, juga, terbenam dalam sifat perdagangan; bahawa perdagangan mesti menjadi “di antara negara, seperti di kalangan individu, ikatan perpaduan dan persahabatan” dan bukannya menjadi “sumber yang paling subur bagi perselisihan dan permusuhan” (rujuk kepada Kekayaan Negara-Negara, Buku 4, Bab 3, Bahagian 2); bahawa akhirnya ia terletak dalam sifat benda-benda bagi perdagangan, diambil secara menyeluruh, untuk membawa faedah bagi kesemua pihak yang terlibat.

Smith memang betul untuk menyanjung perdagangan sebagai berperikemanusian. Tidak terdapat apa-apa yang tidak bermoral sepenuhnya di dunia. Perdagangan, juga, mempunyai sesuatu aspek di mana ia memberi kehormatan kepada kemoralan dan umat manusia. Tetapi apatah kehormatan! Hukum tangan yang kuat, lebuhraya rompakan terbuka dari Zaman Pertengahan, diberikan pandangan keperimanusiaan apabila ia memasuki perdagangan; dan perdagangan dijadikan berperikemanusiaan apabila tahap pertamanya, yang disifatkan oleh pengharaman pengeksportan duit, memasuki sistem merkantil. Kemudian sistem merkantil sendiri dijadikan berperikemanusiaan. Sememangnya, ia adalah dalam kebaikan pedagang untuk berada dalam hubungan baik dengan orang yang dia membeli dengan murah daripada serta orang yang dia menjual kepada dengan mahal. Maka, sesebuah negara bertindak dengan tidak waras jika ia memupuk perasaan bermusuh di antara pembekal dan pelanggannya. Lebih baik hati, lebih berfaedah. Begitulah keperimanusiaan perdagangan. Dan cara berhipokrasi menggunakan kemoralan untuk matlamat-matlamat tidak bermoral adalah kebanggaan sistem perdagangan bebas. “Bukankah kami telah menumbangkan kezaliman monopoli-monopoli?” menjelaskan pihak hipokrit. “Bukankah kami telah membawa kesaudaraan rakyat, dan mengurangkan jumlah peperangan?” Ya, semua ini anda telah melakukan – tetapi bagaimana! Anda telah menghapuskan monopoli-monopoli kecil agar monopoli asas besar yang tunggal, iaitu harta, dapat berfungsi dengan lebih bebas dan tanpa had. Anda telah menamadunkan setiap pelusuk dunia untuk memenangi kawasan baru demi perkembangan ketamakan menjijik anda. Anda telah membawa kesaudaraan rakyat – tetapi kesaudaraan ini adalah kesaudaraan pencuri. Anda telah mengurangkan jumlah peperangan – untuk meraih keuntungan yang lebih besar dalam kedamaian, untuk meningkatkan sepenuhynya permusuhan di antara individu-individu, iaitu peperangan persaingan keji! Bilakah anda pernah melakukan apa-apa dari keperimanusiaan tulin, dari kesedaran sifat sia-sia tentangan di antara kepentingan umum dan individu? Bilakah anda pernah bersikap bermoral tanpa bersikap mementingkan diri sendiri, tanpa melabuhkan di belakang minda anda motif-motif tidak bermoral lagi egotistik?

Dengan membasmikan kewarganegaraan-kewarganegaraan, sistem ekonomi liberal telah mencuba sedaya upaya untuk meluaskan permusuhan, untuk mengubah umat manusia menjadi sesuatu kumpulan haiwan yang sangat lapar (kerana apatah lagi pesaing-pesaing?) yang memakan satu sama lain hanya kerana setiap satu mempunyai kepentingan yang sama dengan yang lain – selepas usaha persediaan ini, terdapat hanya satu langkah yang perlu diambil sebelum matlamat tersebut dicapai, iaitu pembasmian keluarga. Untuk mencapai ini, penciptaan cantik ekonomi sendiri, sistem perkilangan, datang membantu. Sisa terakhir kepentingan bersama, iaitu masyarakat barangan dalam milik keluarga, telah dilemahkan oleh sistem perkilangan dan – sekurang-kurangnya di sini di England – sudah berada dalam proses pembasmian. Ia adalah amalan biasa bagi kanak-kanak, apabila mereka sudah dapat bekerja (iaitu, apabila mereka mencapai umur sembilan tahun), untuk membelanja gaji mereka dengan sendiri, untuk melihat rumah ibubapa mereka hanyalah sebagai tempat kediaman, dan untuk memberikan kepada ibubapa mereka jumlah tetap bagi makanan dan tempat tinggal. Bagaimanakah ia dapat berlaku sebaliknya? Apakah lagi yang dapat dihasilkan oleh pemisahan kepentingan, seperti yang menjadi dasar bagi sistem perdagangan bebas? Apabila prinsipnya sudah digerakkan, ia berusaha dengan impetusnya sendiri melalui segala akibat-akibatnya, tanpa mengira jika ahli-ahli ekonomi menyukainya atau tidak.

Tetapi ahli ekonomi tidak menyedari sendiri apakah matlamat yang dilayani olehnya. Dia tidak menyedari bahawa dengan segala kewarasan egotistiknya, dia hanya menjadi satu ikatan dalam rantai kemajuan abadi umat manusia. Dia tidak menyedari bahawa dengan pembasmian segala kepentingan kumpulan, dia hanya membuka jalan bagi perubahan termasyhur yang abad ini menuju kepada – pendamaian umat manusia dengan alam dan dengan dirinya sendiri.
________
1. Rujuk kepada Karl Marx, Manuskrip-Manuskrip Ekonomi dan Falsafah Tahun 1844, dan Marx dan Engels, Collected Works, Jilid 3 (Lawrence dan Wishart, London, 1975). [Penerjemah.]

Read More.....